Akilku baru beranjak, sahaja kaki Merapi terpatri di seluruh indera saat pertama jumpa. Ingin mengulang waktu, rindu yang malu-malu berarak tak terjamah. Di sana benih yakin berkecambah, esok…sampanku sandar di itu bandar.
Wahai kota seribu sahaja…saat airmu basuh keringku, nasimu jadi lauk nafasku. Desir debu udaramu terangi hari-hari, dingin malam-malammu selimuti jagaku.
Kini layarku harus terkembang lagi. Berkawan sang angin yang setia kabarkan sehat sakitmu. Entah kapan tuntunku kembali …lagi
Di sini…di halaman semu lembar-lembar serat kanta, kupilin rumput sejumput yang kucabut dari tanah kebunmu, kujalin serat seikat yang kukerat dari pelepahmu.
Demi debu jalanan kotamu. Demi pematang sawah taman bermainku. Demi sungai-sungai yang selalu membuatku kembali.
Debu pematang sungai yang mendendangkan cerita…cerita di Jogja


