Untuk orang-orang yang mengenal Jogja secara intim, senja di kota ini terasa sangat singkat karena banyaknya tempat nongkrong unik. Coba tengok kawasan yang ada di sepanjang jalan Malioboro saja. Dari mall hingga sekedar area terbuka untuk ngobrol-ngobrol tersedia di kawasan ini. Tak jauh dari pojok utara ruas jalan ini, anda bisa menikmati Angkringan Tugu.
Angkringan Tugu adalah satu dari sedikit angkringan yang berkonsep lesehan. Entah sejak kapan Jogja sangat identik dengan dua kata, Malioboro dan lesehan, yang jelas, kepopuleran kedua istilah ini didongkrak juga mendongkrak industri Jogja. Diawali oleh keberadaan warung-warung yang hanya menyediakan tikar diatas trotoar untuk tempat duduk pengunjung, konsep lesehan bisa ditemui tempat-tempat lain termasuk angkringan.
Angkringan Tugu, seperti terungkap dari namanya, berada di kawasan Stasiun Tugu, tepatnya di sisi luar tembok pagar utara stasiun. Jaraknya dari Malioboro hanya kurang dari 100 m ke utara. Karena tak banyak angkringan yang memiliki penggemar sebanyak itu, kerumunan pelanggan membuatnya mudah dicari.
Tak banyak orang tahu Angkringan Tugu ada jauh lebih dulu dari warung berkonsep lesehan di sepanjang Malioboro. Angkringan ini sudah berumur lebih dari 25 tahun dan telah menjadi legenda urban di Jogja.
Menurut penuturan warga sekitar, Angkringan Tugu bermula dari Mbah Pawiro, seorang penjual makanan kecil di seputaran stasiun Tugu dan Malioboro sekitar tahun 50an. Dia berkeliling kampung tiap sore untuk menjajakan berbagai penganan yang diletakkan di sebuah gerobag pikul yang disebut Angkring.
Di tahun 70an, anaknya yang oleh masyarakat dipanggil Lik Man meneruskan usahanya ini. Alih-alih menjajakan keliling kampung, Lik Man memilih membuka angkringan secara menetap di tempatnya hingga sekarang. Karena banyak pelanggan baru yang mengenal penjualnya sebagai Lik Man, angkringan ini juga terkenal sebagai Angkringan Lik Man.
Sebagaimana konsep awalnya warung untuk sekedar nongkrong dan ngobrol, Angkringan Tugu hanya menjual makanan ringan seperti berbagai jenis gorengan, baceman, dan sate usus atau ceker. Bahkan, nasi pun diporsikan dan dikemas sebagaimana makanan ringan dan diberi nama Sega Kucing.
Dalam sebungkus nasi, terdapat nasi, yang bisa tandas dalam 4 suapan, dan sedikit lauk yang dipisahkan dari nasi dengan sepotong daun pisang. Lauk biasanya berupa oseng-oseng tempe, teri, mie, atau sambal goreng. Saat ini, Sega Kucing menjadi ikon utama yang dijual di angkringan seluruh penjuru Jogja, bahkan di luar daerah.
Minuman yang ditawarkan bervariasi mulai dari teh, kopi, wedang jahe, hingga minuman instan. Jika anda pernah dengan istilah Kopi Jos, minuman ini merupakan inovasi dari Angkringan Tugu. Kopi Jos adalah wedang kopi biasa yang dicelupi arang membara sehingga menimbulkan bunyi jos menurut telinga pembuatnya.
Angkringan Tugu biasanya penuh sesak oleh pelanggan mulai pukul 9 malam saat akhir pekan atau hari-hari libur. Tempatnya yang di tengah kota namun relatif sepi dari lalu lalang kendaraan bermotor menjadi alasan utamanya. Jadi jangan heran kalau anda harus menyapukan pandangan untuk mencari sudut kosong saat pertama kali datang di Angkringan Tugu. Selamat mencicipi!


Sempat mampir ketika pulang tempo hari, penuh sesak hehe. Tapi nikmat kopi jos, sebatang djarum 76 dan sate brutu disela obrolan ngalor-ngidul tetap tak tergantikan
Wah wah…saya ga pernah kebagian sate brutunya, jangan2 diborong semua sama mas
sekarang kan banyak angkringannya di sana.. yang mana dong punya lik man? kasih tunjuk pake foto angkringannya..
Coba baca lagi paragraf 3, Mas. Di sisi UTARA stasiun, ada sebuah jalan memanjang barat ke timur yang menyusuri tembok stasiun (FYI, semua rel kereta di Jogja memanjang timur-barat). Ujung timur jalan tersebut bertemu jalan P. Mangkubumi, jalan yang memanjang lurus ke selatan dari perempatan tugu. Nah, di pertemuan jalan tersebut Angkriman Lik Man Berada.
Mudahnya, Kalau Mas dari stasiun keluar lewat pintu timur (pintu Jl. P. Mangkubumi), tinggal belok kiri, jalan terus ke utara (arah perempatan tugu) sampai ketemu pertigaan pertama. (FYI, stasiun tugu punya 2 pintu, Pintu Timur (Jl Mangkubumi) dan Pintu Selatan (Jl. Pasar Kembang)).
Tapi, angkringannya cuma buka sore/malam sampe pagi ya, Mas. Bagi2 rejeki sama angkringan lain yang buka pagi/siang