Menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Indonesia, Jogja merupakan salah satu surga belanja bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Berbagai jenis suvenir menarik dapat dijumpai di hampir semua penjuru kota. Salah satu diantaranya adalah Kotagede.
Berbagai jenis oleh-oleh khas memang mudah ditemui di seputaran malioboro, areal yang paling penting dalam industri pariwisata di kota Gudeg. Bakpia, geplak, gudeg, atau salak pondoh adalah jenis makanan yang sering diborong pengunjung. Pun berbagai rupa kerajinan tangan.
Kenapa mesti ke Kotagede? Jawabannya karena disini ada yang berkilau. Ya, di Kotagede ada kerajinan perak. Sebagai sentra kerajinan perhiasan yang berakar dari kejayaan masa lalu, anda bisa berbelanja sekaligus menikmati suasana Jogja yang “asli”.
Semua dimulai dari era kejayaan kerajaan Mataram Islam. Di masa itu, perajin perak bekerja untuk para raja dan bangsawan dan membuat berbagai perhiasan serta barang kebutuhan rumah tangga. Keterampilan mereka makin terasah seiring terjadinya akulturasi budaya antara budaya asli dengan pengaruh Islam-Arab, Eropa, dan China.
Kejayaan industri perhiasan Kotagede sering dikaitkan dengan keberadaan orang Kalang. Mereka adalah komunitas pendatang, yang berhasil mendapatkan tempat sekaligus banyak keuntungan dalam industri perak dengan cara menyediakan tempat kerja, tempat berjualan, dan pinjam-meminjam modal usaha.
Setelah Kotagede tak lagi menjadi pusat pemerintahan, para pelaku industri ini enggan beranjak namun tetap bertahan dengan profesinya. Sempat mati suri cukup lama, kerajian perak Kotagede kembali bersinar di era 1930-an. Walaupun berada dibawah kungkungan penjajah, kestabilan kondisi keamanan yang terjamin karena status keistimewaannya sebagai situs keraton jadi pendorong utama.
Sekarang terdapat puluhan toko perak di sepanjang jalan-jalan utama Kotagede. Workshop dan toko perak berjajar di tepi jalan Mondorakan, Tegalgendu, dan Kemasan. Workshop dibuka untuk umum agar pengunjung dapat melihat para perajin perak berkarya.
Banyaknya toko yang menjual aneka kerajinan perak juga membawa dampak positif terhadap kestabilan harga. Toko-toko besar biasanya menetapkan harga yang sedikit lebih tinggi dengan menawarkan berbagai kelebihan kualitas. Sementara yang berukuran sedang dan kecil menawarkannya pilihan terbatas dengan harga yang lebih murah.
Tak jarang toko-toko perak itu menawarkan pelayanan lebih bagi pengunjungnya. Mereka juga menyediakan berbagi fasilitas pendukung seperti toilet, gazebo, atau rumah makan. Toko-toko perak berskala besar menempati wilayah sedikit terpisah dari keramaian di jalan Ngeksigondo dan Tegalgendu. Sementara toko-toko kelas menengah dan kecil banyak berkumpul di jalan Kemasan dan sekitar Pasar Gede.
Setelah mendapatkan belanjaan yang kita inginkan, ada baiknya anda menyempatkan diri menikmati sensasi “nyleneh”. Cobalah beli beberapa bungkus Kipo, makanan kecil khas Kotagede. Setelah itu, pulanglah naik andong atau becak. Paduan semilir angin sore, derap santai kaki kuda, dan manisnya kipo bisa menjadi segumpal kenangan manis saat tentang Jogja.


banyak hal di kotagede, tidak hanya perak.. ni tempat harus masuk agenda kunjungan klo main ke jogja..
Setuju, mba Niet
Salam